Didapuk Ketua Dewan Pembina Asphri, Fahmi Idris Curhat Saat Menjadi Menaker

BANDUNG – Asosiasi Praktisi Human Resources Indonesia (Asphri) menggelar Rapat Kerja Nasional II Asphri 2019 dengan tema “Optimisme Menatap Masa Depan” di Mason Line Hotel, Bandung (02/11). Rapat kerja tersebut juga mengukuhkan Mantan Menteri Tenaga Kerja, Fahmi Idris sebagai Ketua Dewan Pembina Asphri.Sebagai Ketua Dewan Pembina Asphri,  Fahmi Idris menilai jika peran HR sangat penting menjaga hubungan antara manajemen perusahaan Dengan karyawan. Sebab, dua elemen didalam perusahaan itu memiliki tujuan yang berbeda. Dia menyebutkan, manajemen perusahaan memiliki tujuan agar harmonisasi antar karyawan dan manajemen baik agar produksi tercapai. Sementara, karyawan, selain menggenjot produksi juga menghendaki agar bisa mendapatkan upah dan penghidupan yang layak.
“Nah hubungan antar perusahaan dengan karyawan bisa bergejolak karena dua perbedaan itu jika tidak dikelola dengan baik,” kata Fahmi Idris dalam sambutannya. Dia menilai jika peran Asphri sangat penting menjadi penengah agar pihak perusahaan dan karyawan dapat berjalan dengan baik. “Peran Asphri posisinya bisa ditengah-tengah, menjadi penyeimbang diperusahaan agar tetap harmonis antar perusahaan dengan karyawan,” harapnya. Fahmi menceritakan pengalamannya selama menjadi Menteri Tenaga Kerja pada tahun 1998. Dia mengungkap beberapa gejolak yang terjadi di dunia industri-buruh dan masalah tersebut tidak bisa dianggap sepele. Misalnya saja, cerita dia, pernah terjadi aksi unjuk rasa karyawan garmen dari solo yang jumlahnya mencapai ribuan. Selain berunjukrasa mereka juga menginap selama tiga hari agar tuntutannya itu terealisasikan. Saat itu, Fahmi menceritakan pengalamannya ketika ditelpon Menteri Perindustrian yang dijabat Rachardi Ramlan. “Waktu itu saya ditelpon sama teman saya Rachardi Ramlan, Mi itu dikantor lo dibawah banyak bener pengibaran bendera warna hijau, merah,” cerita Fahmi. Setelah ditelpon Rachardi Ramlan, Fahmi Idris langsung meminta stafnya mengecek langsung kondisi di depan Kementerian yang dipimpinnya itu. Setelah dicek, diketahui jika ada masa buruh garmen mengindap selama tiga hari di depan kantor kementerian. “Ya warna hijau, merah itu bukan bendera tetapi baju, celan dalam yang dijemur miliki buruh yang mengindap,” kenangnya. Parahnya lagi, saat itu, buruh ngotot menambah waktunya tiga hari lagi untuk menginap di depan kantor kementerian tenaga kerja. Namun, Fahmi menolaknya karena alasan Kondisi kantor kementerian yang semakin kotor. “Akhirnya mereka balik dengan kami fasilitasi bus,” katanya. Dengan pengalamannya itu, Fahmi menilai jika persoalan buruh dan industri tidak bisa dianggap sepele. Sebab peran perusahaan dan karyawan sangat penting agar investasi di tanah air terus berjalan dengan baik. (***)