Peluang dan Tantangan Asphri di 2020

BANDUNG – Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ke II Asosiasi Praktisi Human Resource Indonesia (ASPHRI) yang digelar di Hotel Mason Pine, Bandung Barat, Minggu (3/11/2019), menghasilkan sejumlah program-program yang mendukung peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM). Antara lain pertama, hasil rapat terkait kepengurusan ASPHRI melakukan evaluasi dan konsolidasi untuk lebih meningkatkan kemampuan dan mengkonsolidasikan organisasi agar bisa melaksanakan program kerja lebih efektif dan efesien. Kedua, ASPHRI siap untuk menjadi pelopor dalam pengujian dalam riview undang-undang baik Ketenagakerjaan maupun Peraturan Pemerintah yang kurang memberikan keadilan kepada pengusaha maupun pekerja. Disamping itu, ASPHRI juga berfungsi melakukan cek and balancing terhadap kebijakan-kebijakan ketenagakerjaan dengan tujuan agar kebijakan pemerintah dan regulasi ketenagakerjaan bisa memberikan kontribusi yang positif terhadap dunia industri di Indonesia khususnya dunia hubungan industrial. Kini, ASPHRI siap memberikan program-program pelatihan peningkatan kompetensi ketenagakerjaan. Saat ini pula, ASPHRI sedang memproses pendirian Lembaga Sertifikasi Profesi Sumber Daya Manusia (LSP SDM) ASPHRI yang akan beroperasi di tahun 2020. “Ini tantangan dan peluang ASPHRI dalam menghadapi tahun 2020 sebagai tahun peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) Indonesia,” kata Ketua Umum ASPHRI, Yos Menaldi dalam keterangan persnya. Dengan begitu, ASPHRI bersiap untuk ikutserta mendukung program pemerintah terkait peningkatan kompetensi di era revolusi industri, digitalisasi dan robotisasi. Lembaga ASPHRI Seiring dengan perkembangan keanggotaan, ASPHRI sudah membentuk lembaga termasuk lembaga bisnis, sosial, akademik, antara lain PT Aspirasi Mitra Indonsia. PT AMI ini dibentuk ASPHRI untuk mengakomodir para anggota terkait pelaksanaan program pelatihan, pelayanan event organiser, konsultasi manajemen SDM, konsultasi dan advokasi,” katanya. Selanjutnya, ASPHRI sudah mendirikan LP2SK yang terdiri dari sejumlah anggota ASPHRI yang berpendidikan S3. Tujuannya untuk melakukan penelitian dan pengkajian hubungan industrial dan ketenagakerjaan Indonesia. “Kami siap berkolaborasi dengan pemerintah, dunia industri, akademis guna meningkatkan hubungan industrial yang harmonis, tidak hanya pengusaha juga pekerja,” kata Yos. Selain itu, ASPHRI juga membentuk LK2K (Lembaga Konsultasi dan Advokasi Ketenagakerjaan) yang bertujuan mengakomodir keinginan dari amggota terkait permasalahn dan perselisihan hubungan industrial. “LK2K ini terdiri dari pengacara dan lowyer yang memiliki kompetensi dibidang ketenagakerjaan,” terangnya. Yos menyampaikan, pihaknya juga berkerjasama dengan USAID dalam program training of trainer. Hingga tahun ini sudah meghasilkan 30 TOT yang bersertifikat international. “Tahun depan melanjutkan dengan USAID ditahap kedua. ASPHRI siap mentransfer 30 orang untuk training and trainer bersertifikat international kepada member ASPHRI,” katanya. Tak hanya itu, ASPHRI memiliki AMI Lening Center yang menjadi cikal bakal lembaga diklat profesi yang akan mendukung program sertifikasi LSP SDM. “Dengan adanya LSP SDM bersama asesor berkompeten akan mengeluarkan sertifikasi kompetensi manajemen,” ujarnya. Segenap perangkat ASPHRI yang beranggotakan hampir 600 orang, dimana 80 persennya adalah praktisi human resource dengan area keanggotaan diantaranya Batam, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur. (***)