Waspada DBD, Nyamuk “Si Belang” Gigit 21 Orang di Kabupaten Bekasi

KABUPATEN BEKASI – DBD menjadi wabah yang lebih berbahaya dari corona di Kabupaten Bekasi. Penyakit yang ditularkan dari gigitan nyamum aides aygepty sudah diderita sebanyak 21 orang di bulan Februari 2020. Sebelumnya tercatat 30 penderita DBD pada Januari 2020.

Untungnya, jumlah penderita DBD itu terus menurun. Bahkan, jika dibanding tahun 2019 pada bulan Januari sebanyak 85 kasus dan Februari 152 kasus. Artinya ada penurunan yang cukup signifikan dibanding tahun ini.

Untuk tingkat kecamatan, kasus DBD tertinggi sepanjang tahun 2020 ini berada di Kecamatan Setu, Kecamatan Tarumajaya dan Kecamatan Cibarusah.

“Sebenarnya sebaran kasus DBD merata di setiap Kecamatan, namun jika dilihat kasus DBD tertinggi ada di Kecamatan tersebut,” kata Kadinkes Kabupaten Bekasi, Sri Eny. Kasus DBD rata-rata diderita pada usia 12-44 tahun.

Untuk menekan angka penyebaran kasus DBD, Sri Enny memaparkan, Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi telah melakukan upaya-upaya penanggulangan DBD.

Diantaranya, pembentukan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (Juru Pemantau Jentik) atau G1R1J, penyuluhan di setiap puskesmas dalam rangka penyebaran informasi terkait gertak (gereakan serentak) PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) dan gerakan 3M Plus (Menguras, Menutup, Memantau, dan Menimbun).

Kadinkes juga menghimbau seluruh masyarakat menjaga kebersihan diri, rumah dan lingkungan. Sampah yang dibuang sembarangan nantinya akan menjadi tempat jentik nyamuk untuk tumbuh dan berkembang. Nyamuk Aedes Aegyti senang berkembangbiak di genangan air bersih yang bisa tertampung di wadah apapun. (Pobek)