Pemilihan Wakil Bupati ala DPRD Didemo Aktivis dan LSM

KABUPATEN BEKASI – Pemilihan wakil bupati oleh DPRD Kabupaten Bekasi pada Rabu (18/03) menimbulkan polemik. Disaat 40 anggota DPRD sibuk menentukan pilihannya, aktivis dan LSM ribut-ribut diluar.

Seperti beberapa element masyarakat yang menggelar aksi mengecam pemilihan wakil bupati ala DPRD itu. Mereka menunding wakil rakyat Kabupaten Bekasi telah mengangkangi peraturan perundang-undangan yang ada.

Mereka mengecam jika Panlih Wabup Bekasi hanya ‘politik dagang sapi’ atau jual-beli jabatan kepentingan saja.

“Kami muak sebetulnya melihat kelakuan Elit Politik di Bekasi, seperti Politik Dagang Sapi saja. Saling sikut dan bermanuver untuk memperebutkan kekuasaan wakil Bupati. Kami paham, bahwa di politik, tidak ada makan siang gratis. Panlih terburu-buru ada apa? Bupati belum menyerahkan Rekomendasi ada apa?,” jelas Ketua BEM FT Universitas Pelita Bangsa, Fakhri Pengetsu.

Aksi tersebut sempat ricuh karena masa aksi mencoba memasuki pagar pembatas yang dijaga ketat aparat kepolisian. Bahkan, sempat terjadi aksi lempar batu dan membuat aparat menyemprotkan watercanon dan menembakan gas air mata ke arah peserta aksi. Situasi panas itu hanya terjadi beberapa menit saja.

Tak hanya aktivis mahasiswa saja, elemen masyarakat GMBI pun melakukan aksi unjuk rasa dan tertahan pihak Kepolisian di pintu masuk area Pemda Kabupaten Bekasi. Aksi tersebut dan terjadi aksi lempar batu dengan di balas semprotan air (watercannont) untuk membubarkan aksi tersebut. 

ketua LSM GMBI Kabupaten Bekasi H. Boksu menduga ada oknum dewan yang korupsi terkait pemilihan wakil Bupati yang terkesan dipaksakan. “Kami menduga ada suap dibalik berlangsungnya pemilihan wakil Bupati ini ke oknum dewan,” katanya. GMBI akan terus bergerak dan siap melaporkan pemilihan wakil bupati ala DPRD ini ke provinsi Jabar dan KPK. (Pobek)