Potret Bekasi

Diperpanjang Sampai 2 Juli 2020, PSBB Bekasi Jangan Sampai Mubajir!

Catatan Redaksi

Pemerintah Kabupaten Bekasi mengikuti kebijakan berbeda soal penerapan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) dari pemerintah provinsi Jawa Barat. Pemkab yang di komandoi Bupati Eka Supriaatmaja ini memilih untuk memperpanjang PSBB sampai 2 Juli. Sementara kebijakan dari pemerintah provinsi jabar, PSBB sampai 26 Juni 2020.

Perpanjangan PSBB sampai kurang dari tiga minggu kedepan itu mengikuti kebijakan dari beberapa daerah yang disinergikan dengan provinsi DKI Jakarta. Kabupaten Bekasi, meskipun wilayahnya dibatasi oleh Kota Bekasi untuk menuju ke Jakarta, betapa penting wilayah ini, karena menjadi penyangga ibu kota Jakarta. Apalagi Kabupaten Bekasi menyandang wilayah urban, dimana tak hanya orang local atau antar daerah yang ada di sini tetapi juga warga manca Negara tinggal di sini.

Bahkan, beberapa ekspatriat yang bekerja di kawasan industry Kabupaten Bekasi tidak pulang ke kampung halamannya di masa pandemic corona. Mereka memilih berdiam diri di wilayah objek investasinya ini.

Dari data yang terhimpun di Pikokabsi untuk penyebaran covid-19 ini grafiknya turun naik. Beberapa minggu lalu, sempat mencatat kasus penyebaran virus asal Wuhan Cina itu sempat melandai atau menurun. Namun minggu terakhir ini, kasus penyebaran Covid-19 naik kembali, bahkan di Kabupaten Bekasi tercatat perhari ada pengingkatan pasien covid sebanya 18 orang.

Tentunya, mengurus masalah dengan virus berbahayan ini tak bisa dibilang mudah. Banyak prediski awal, Covid hanya akan terjadi beberapa bulan kedepan. Faktanya, sampai pertengahan tahun 2020 ini, Kabupaten Bekasi terus bergulat dengan virus tersebut.

Tak sedikit warga yang nyinyir menganai pemberlakukan PSBB yang mubajir. PSBB belum menjadi solusi agar Covid-19 ini musnah dari bumi nusantara. Warga masih terus diteror dengan virus ini.

Namun sepertinya kejenuhan warga juga tak bisa dihindari. Beberapa hari terakhir ini, aktifitas warga sudah seperti biasa, seolah tidak ada lagi pembatasan sosial. Jalan-jalan ramai, mall mulai di buka dengan protocol kesehatan ala Covid-19. Pertanyaannya apakah dengan protocol kesehatan yang diterapkan disemua bidang, kita bisa terhindar dari covid-19? jawabnya tak ada jaminan.

Intinya, kerjasama dan kesadaran masyarakat secara maksimal yang bisa memberantas virus jahanam  itu. Warga yang beraktifitas tidak bisa dibiarkan dan dilepas begitu saja, harus ada kendali yang harus dilakukan pemerintah daerah dengan mengeluarkan beberapa kebijakan.

Menurut saya, masih perlu ada penempatan tim pemantau penerapan protocol covid-19 di beberapa titik keramaian. Itu seperti PSBB awal dilakukan. Harus tetap tegas kepada mereka yang melanggar. Sudah menjadi tabiat masyarakat kebanyakan jika tidak ada pemantauan maka akan ada pelanggaran. Masyarakat biarkan saja tetap bekerja, mencari nafkah. Ini agar roda perekonomian tetap berjalan.

Selama covid masih ada, di beberapa wilayah, provinsi atau pun Negara lain, kita harus tetap waspada, jangan lengah. Terlepas ada anggapan covid itu konspirasi global, tetapi faktanya Covid telah menghilangkan banyak nyawa.

Berita Lainnya

Dewan Provinsi Jabar, H. Syahrir Bantu APD ke RS di Bekasi

Redaksi Potret

Dikomandoi Eka, Kinerja BNK “Tak Bergaung”

Redaksi Potret

“BPJS Kesehatan Mendengar” Ajak Stakeholders JKN-KIS Suarakan Aspirasinya

Redaksi Potret