Produsen Tempe di Cikarang Tetap Produksi Ditengah Kenaikan Kedelai

KABUPATEN BEKASI – Produsen tempe di Bekasi, Jawa Barat mulai kembali produksi, pada Minggu (3/1), setelah tiga hari mogok. Aksi mereka dilakukan untuk menolak kenaikan harga bahan baku kedelai impor.

Seperti diungkapkan pengrajin tempe di wilayah Cikarang Utara, Lukman. Pria asal Pekalongan itu memproduksi kembali tempe setelah tiga hari tidak berjualan karena berhenti produksi.

“Kami sudah mulai produksi kembali,” kata Lukman. Tak hanya dirinya, terdapat beberapa produsen tempe yang melakukan aksi sama karena harga bahan bakunya naik meroket.

Lukman mengakui jika sangat berat melanjutkan usaha tempenya ditengah harga bahan baku yang baik. Seperti buah simalakama, jika berhenti berdagang dirinya tak bisa mencukupi kehidupan keluarga.

“Repot bos, kalau gak dagang. Dari mana lagi penghasilan kami selain dari berjualan tempe,” katanya.

Untuk menyiasati agar tempenya tetap laku dipasaran, Lukman tidak menaikan harga tempenya. Tetapi hanya mengurangi besaran tempe yang dijulan. Harga masih tetap sama yaitu Rp 4000 per batang dengan ukuran 2,5 meter.

“Biasanya penuh, sekarang di kurangin. Misalnya 1 kilo bisa 8 ons, nantinya kalau pembelinya bilang enteng engga kaya kemarin. Nanti tinggal bilang maaf memang lagi mahal harganya,” ungkapnya. (Pobek)