Jangan Jadi Cluster Baru, Pendidikan Tatap Muka Kembali Ditunda

KABUPATEN BEKASI – Ditundanya pendidikan tatap muka di awal Januari 2021 ini dinilai menjadi pilihan yang tepat pemerintah daerah Kabupaten Bekasi. Sampai saat ini, kondisi pandemic covid-19 jumlah penderitanya masih terus mengalami peningkatan.

Jangan sampai, dunia pendidikan menjadi cluster baru penyebaran covid-19 itu.

“Penyelenggaran pendidikan offline perlu waktu penyesuaian mengingat Kabupaten Bekasi masuk zona merah,” jelas anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Faisal Hafan Farid.

Satuan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Bekasi, Jawa Barat menyebutkan 20 kecamatan yang berada di wilayahnya kembali masuk zona merah pasca ledakan klaster industri. Hingga hari ini, Selasa 1 Desember 2020, sebanyak 86 desa di 20 kecamatan di Kabupaten Bekasi masih memiliki kasus aktif warga yang terpapar Covid-19.

Tiga kecamatan yang bebas Covid-19 berada di Bojongmangun, Muara Gembong dan Sukawangi. Hingga hari ini, ada 472 kasus aktif Covid-19 di Kabupaten Bekasi. Dari jumlah tersebut 220 orang dirawat di rumah sakit dan 252 menjalani isolasi mandiri.

Angka kumulatif kasus positif Covid-19 sebanyak 6.110 kasus. Dari jumlah tersebut 5.531 orang sudah dinyatakan sembuh, 107 meninggal dunia dan 472 orang dalam perawatan.

“Jadi kembali mengacu kepada SKB 4 menteri ya penyelenggaraan pendidikan tatap muka ditunda dulu, karena masuk zona merah,” jelasnya.

Politisi PKS itu meminta agar pemerintah Kabupaten Bekasi tak gegabah mengambil keputusan untuk menggelar pendidikan tatap muka ini. Tentunya, semua pihak ingin yang terbaik dan penyebaran covid-19 bisa dihentikan penyebarannya.

“Kita maksimalkan pernah penerapan protok kesehatan di masyarakat agar penyebaran covid bisa ditekan, saat ini masih terus terjadi penambahan jumlah kasus covid-19,” katanya. Dengan begitu, jangan sampai dunia pendidikan yang diisi oleh generasi muda menjadi cluster baru penyebaran covid-19. (rls/pobek)