JKN KIS Bantu Biaya Pengobatan Aceng

KABUPATEN BEKASI – Ada pengalaman yang cukup mengagetkan bagi Farid Wajedi (44), bapak dari tiga orang anak ini tanpa sebab mengalami syaraf kejepit pada tulang belakang beberapa tahun lalu. Pria yang biasa disapa bang Aceng ini bingung dengan penyakitnya itu. Selain membuatnya menderita nyeri sakit pada pinggang, Aceng juga tak begitu mengetahui penyebab dirinya mengalami syaraf kejepit tulang belakang.

“Beberapa tahun lalu saya mengalami sakit pinggang tiba-tiba. Ya saya tidak mengalami jatuh sama sekali kok saya bisa kena syaraf kejepit. Pas saya bangun dari duduk, sakit sekali bagian pinggang belakang, nyerinya sangat sakit sekali. Mau melakukan aktivitas pekerjaan sehari-hari terkendala karena sakit ini,” kenang Aceng, Selasa (09/03).

Aceng pun langsung berobat ke dokter, hasilnya dia mengalami syaraf kejepit pada bagian tulang belakangnya. Dari hasil konsultasi dengan dokter, pria yang saat ini tinggal di Kabupaten Bekasi ini harus menjalani perawatan. Di antaranya, Aceng harus menerima lima kali suntik per hari selama satu minggu seharga 500 ribu rupiah. Beruntung Aceng telah terdaftar sebagai peserta JKN-KIS dari tempatnya bekerja.

“Waktu itu saya bingung sekali, duit dari mana sehari saja harus mengeluarkan uang sebesar dua setengah juta rupiah. Alhamdulillah, saya bersyukur telah terdaftar JKN-KIS, ini untungnya terdaftar sebagai peserta. Jika belum terdaftar saya bingung duit darimana untuk membiayai pengobatan saya, pasti saya hanya bisa pasrah dan hanya menggunakan pengobatan alternatif” katanya.

Saat ini kondisi Aceng yang bekerja sebagai supir truk di sebuah prusahaan swasta ini telah normal seperti biasanya. Dia juga bisa menjalankan aktivitas seperti biasanya tanpa merasakan rasa sakit nyeri pada tulang belakangnya. Apalagi dia juga memiliki tanggungan keluarga yang harus dicukupi kebutuhan hidupnya. Sehat menjadi salah satu syarat untuk menafkahi seluruh anggota keluarganya.

“Saat ini keadaan saya sudah lebih baik dan saya dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan nyaman. Saya bekerja sebagai supir truk di perusahaan jika saya sakit maka saya tidak dapat bekerja dan tidak mendapatkan upah. Ya kalau kita sakit gak bisa cari nafkah bagaimana saya dapat member nafkah keluarga saya. Untungnya saya sudah didaftarkan menjadi peserta JKN dari tempat saya bekerja,” tandasnya. (Pobek)