Budaya Tunggu, Pro-aktif & Reaktif

DI NEGERI ini, ada satu budaya “lama” yang kita tak sadar, bahkan sudah menjadi tradisi: Budaya Tunggu. Budaya Tunggu sudah “mendarah-daging” dalam tradisi dan kehidupan anak bangsa kita sejak puluhan tahun lalu. Mau makan tunggu lapar dulu, mau minum tunggu haus dulu, mau bekerja tunggu perintah dulu, mau perbaiki rumah tunggu rusak dulu, mau disiplin tunggu dipaksa dulu, bahkan mau mati tunggu risiko muncul dulu.

Budaya Tunggu, jelas budaya anti inisiatif, anti konsep, anti perencanaan dan anti antisipasi ke masa depan. Perencanaan dan strategi antisipasi sebagai bagian dalam memprediksi kemungkinan2 yang terjadi dimasa depan, sudah menjadi konsep dasar dalam sistem manajemen modern. Sebagaimana dikatakan oleh Abe (2001), bahwa perencanaan adalah susunan (rumusan) sistematik mengenai langkah-langkah (tindakan-tindakan) yang akan dilakukan di masa depan, dengan didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan yang seksama atas potensi, faktor-faktor eksternal dan pihak-pihak yang berkepentingan dalam rangka mencapai suatu tujuan tertentu.

Jadi, apa yang harus kita lakukan agar Budaya Tunggu bisa dirubah? Kita belum terlambat! Mulailah untuk selalu membuat perencanaan jelas, strategi efektif, antisipasi prediktif, implementasi cerdas & evaluasi inovatif yang berujung kepada target yang produktif. Mari kita tinggalkan Budaya Tunggu, Ciptakan Budaya PRO-AKTIF, bukan REAKTIF, agar segala sesuatu dilakukan secara terencana, sistematis, efektif, efisien & produktif, agar bangsa ini mampu bersaing di fora Internasional sebagaimana dicita-citakan bersama. Semoga.

Yosminaldi

Komplek Perumahan Jatikramat      

Indah I

Bekasi – Jawa Baear